Rabu, 27 Agustus 2014




Pernahkah kamu tiba-tiba saja terpikir sebuah nama,
ketika seseorang menanyakan tentang definisi 'cinta' padamu?
Aku pernah, dan itu namamu.



Kemeja Itu

Aku mengenal baik kemeja itu. Kemeja dengan corak dan warna kesukaanmu.

Masih bisa kuingat betul seberapa tampannya kamu mengenakan kemeja itu, lengkap dengan celana jeans dan sepatu coklat bertali. Ah, aku semakin mengagumimu saat kau tampil dengan dandanan rapi, tak lupa sweater hitam ditanganmu. Jika sudah seperti itu mana peduli aku dengan paras aktor Hollywood sekalipun, kamu minta aku mematikan televisi lalu berganti memandangimu hingga mataku mengering pun tak jadi masalah.  

Aku mengenal baik kemeja itu. Kemeja yang sering kau pakai, sesering kau mengatakan rindu ingin memeluk aku. Dulu. Hal detail darimu yang mana yang tak ku ingat? Jadi aku rasa, tak mungkin aku tak mengenali kemeja yang menemanimu saat menemuiku. Dulu.

Dan sebegitu hafalnya aku denganmu, bisa tak mungkin aku tak mengenali kemeja itu, sekalipun kau pakai dari kejauhan, atau hanya nampak sekilas di fotomu bersama seorang wanita, dan itu bukan aku.

Selasa, 19 Agustus 2014

Mana Ada Kamu di Rumahku

Ku kira pertemuan kita berakhir di sebuah rumah, hangat dan menentramkan. Namun, mana ada kamu di rumah ku, kamu hanya ada dipikiranku, bahkan rumah itupun hanya ada dipikiranku. Memang bahaya berangan-angan tapi aku seperti kecanduan, menikmati pikiranku yang penuh bayang-bayang, nyatanya mana ada kamu di rumahku.

Suaramu seperti angin yang melewati dedaunan pohon, melewati celah-celah dinding rumah, dibawa angin kemanapun kaki melangkah, membisikkan dan mengatakan sesuatu bahwa kamu sedang dalam perjalanan ke rumah, nyatanya sampai saat inipun mana ada kamu di rumahku.

Orang-orang sepertiku perlu diselamatkan, dibangunkan dari tidurnya logika, disadarkan bahwa kehidupan nyata menanti pembuktian kata-kata. Karena untuk membawamu ke rumahku membutuhkan banyak pembuktian bahwa aku tidak menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ditepati dan aku bisa menunjukan bahwa setiap perkataanku tidak berhenti sebagai angan-angan.

Kamu suka diperjuangankan, kan?

--- suaracerita #8

Senin, 18 Agustus 2014

dan aku menangis lagi


Orang selalu bilang untuk tetawa dengan wajahmu, 
dan menangislah dengan hatimu.

Minggu, 17 Agustus 2014

kunci & gembok

Sebuah gembok dengan kokoh mengunci pintu rumah. Sebatang tongkat besi yang gagah perkasa ingin membuka gembok tersebut. Sang pemilik tongkat mengerahkan seluruh tenaganya, tapi tetap saja tak mampu membuka gembok itu. Sesaat datang seseorang dengan sebuah kunci yang kecil kemudian memutar dan terdengar 1 suara ‘klik’, dan terbukalah gembok itu.

Sang pemilik tongkat besi tak habis pikir kemudian bertanya, "Mengapa aku yang setengah mati mengerahkan tenaga tak bisa membukanya, tapi kamu dengan benda yang kecil dengan mudahnya bisa membukanya?" Sang pemilik kunci menjawab, “Itu karena aku memahami isi dalamnya.”

Hati setiap manusia ibaratnya pintu rumah yang tergembok, batangan besi yang paling kokoh pun tak bisa membukanya. Perhatian dan kasih sayang adalah kunci kecil yang akan dapat membuka pintu hati yang tergembok.